Selasa, 15 Maret 2011

Aneh 2

Aku tidak pernah merasakanmu lagi ada
Sore menyadarkanku kamu benar-benar hilang
Aku tidak ingin beranjak secepat ini
Dari tempat ini
Terakhir aku menatap kelopak matamu yang pasti tidak akan membuka lagi
Dan ku masih saja merasa sore ini sangat aneh
Karena aku harus terbiasa tanpa senyummu
Tanpa membayangkan suasana tengah hari di beranda rumahmu
Yang waktu itu ku ingat aku masih duduk di sampingmu
Sore tampaknya akan benar-benar berlalu
Dan kejanggalan ini menetap padaku
Aneh, jika aku harus hidup esok hari tanpamu
Aneh, jika aku masih bisa ingat jalan pulang
Ke rumah di mana aku akan temukan tidak ada kamu
Aneh, karena aku masih berharap ini hanya mimpi
Aneh, karena aku masih berpikir itu kamu yang memandangiku dari balik pepohonan
Namun ketika ku telusuri jejakmu
Aku hampir putus asa karena lagi-lagi aku dipermainkan ilusi
Dan ketika aku melangkah dengan mata berlinang
Aneh, aku tidak ingin cepat-cepat berhenti menangis

Kamis, 10 Maret 2011

Bergenggaman Tangan

Aku pikir kita tidak akan berjalan hingga sejauh ini
Karena kakiku, kakimu, sama-sama tak beralas
Dan perjalanan ini, tidak juga akan berakhir
Namun aku belajar bagaimana merangkak
Dan tetap aku sadari tidak ada yang bisa dijadikan alasan untuk berhenti
Ketika kamu bilang, kita akan bergenggaman tangan menyusuri labirin ini
Dalam sekejap, aku sampai di ujung sana
Dan kamu bilang, kita sampai di rumah kawan
Benar, kita sampai di rumah
Dan perjalanan menyusuri labirin itu,
Tidak pernah lebih sulit
Karena kita saling bergenggaman

Rabu, 09 Maret 2011

Ke sini

Seandainya aku bisa menyampaikannya padamu
Bahwa ketika pertama kali itu, aku tahu kamu
Akan berjalan menyusuri jalan yang berbeda
Dan seandainya aku bisa meyakinkanmu
Bahwa ketika yang ke sekian kalinya, aku pikir
Jalan itu akan membutakanmu jauh sekali
Namun kamu tidak pernah menoleh ke belakang
Tidak pernah dengar panggilanku
Hingga aku paham kamu sekarang pasti merasa sangat sendiri
Karena aku pun tidak pernah bisa menjangkau bahkan setitik bayangmu
Padahal jika kamu kembali ke sini
Kamu akan temukan aku
Seandainya semuanya tidak jadi seperti ini
Bahwa pada detik-detik seperti ini, aku sangat yakin
Kita sedang tertawa bersama sambil mengenang masa lalu
Seandainya kamu tidak jadi pilih jalan itu
Besok bukan lagi sebuah penantian, kamu harus tahu
Kita akan tertawa lebih lebar, bukan merana dalam sepi
Namun lagi-lagi kamu ragukan aku, sepertinya,
Tidak tahu aku
Padahal jika kamu kembali ke sini
Kamu akan temukan aku
Namun kamu tetap bertahan di sana
Seakan tak letih berjalan merangkak di atas bebatuan tajam
Kamu selalu tak hiraukan aku
Dan kamu pikir kamu belum cukup berdarah-darah
Masih tidak mau kembali ke sini
Padahal aku masih menanti 

penyendiri


Beri aku kabar tentang dia yang tidak ada di sini
Dia yang mungkin sedang tersenyum sambil memandangiku dari sebuah tempat yang sangat jauh
Dan aku dan semua doaku setiap hari untuknya
Mungkin saja Tuhan menyampaikan salamku bahwa aku selalu ingat dia
Aku selalu tahu di hari ketika dia benar-benar pergi
Dia bahkan memintaku untuk tersenyum walau dia menangis
Dia tidak benar-benar ingin pergi
Tapi aku harus mengerti bahwa aku dan dia ikhlas
Lalu berapa banyak lagi air mata yang aku jatuhkan
Dia hanya akan terdiam dan tak kan lagi mengusap kepalaku
Walau hanya menggenggam tanganku tanpa kata
Bahkan menatapku melalui celah jendela kamar seperti yang selalu ia lakukan
Aku tahu aku bisa membayangkan senyumnya lengkap dengan lesung pipi yang selalu kurindukan
Aku merindukannya
Lalu bisakah aku tahu jika ia juga merasakan yang sama
Tuhan pasti akan mengabariku nanti
Sebelum hari itu tiba aku hanyalah seorang penyendiri di antara lamunan
Dan lamunan itu yang membawa aku padanya
Kembali ke tahun-tahun yang lalu di suatu hari yang selalu disinggahi hujan
Aku dan dia, kami berdua yang berbagi teh hangat di cangkir yang sama
Sambil terus memandangi hujan dari beranda
Ada kehangatan di setiap angin dingin yang berhembus saat itu
Saat itu kami hanya manusia biasa yang tidak tahu apa-apa
Aku kira dia bisa lebih lama lagi tinggal
Tapi ternyata dia juga akan pergi seperti yang lain
Seperti aku juga
Tapi sampai hari itu datang
Aku adalah penyendiri
Duduk di beranda di kala hujan datang dan teh hangat
Kunikmati sendirian

prolog


Dan ketika aku terbangung
Ia tidak juga membuka matanya
Apa ia sedang dalam mimpi yang panjang
Karena tak juga ia hiraukan sedikitpun panggilanku
Aku beranjak pergi dari sisinya
Ada sebuah perasaan tak menentu
Kapan ia akan bangun?
Apakah sore nanti?
Atau beberapa menit lagi?

Hujan


Hujan itu seperti nyanyian, dengarkan ia
Di kala ia turun lagi sore ini
Hujan itu seperti jembatan, melangkahlah di atasnya
Ia akan mengantarkan kita pada seseorang
Hujan itu seperti isyarat perpisahan
Menjauhlah darinya
Kita akan tetap berada di sini
Hujan itu adalah keteduhan
Di bawah derasnya butiran air berjatuhan
Tak ada matahari waktu hujan
Dan kita benar-benar terlindung dalam gelap
Hujan itu seperti nyanyian, dengarkan ia
Dan kamu akan merasakan airnya mengaliri hatimu yang gersang

berita baik

Tak ada yang tau kapan ia datang
Mungkin tadi subuh atau mungkin sore kemarin
Yang jelas ia selalu membawa kabar gembira
Begitu gembiranya hingga tak ada yang sadar kadang ia kehabisan berita
Ia ucapkan apa yang ingin didengar
Dan ia sembunyikan apa yang buruk
Jangan sampai ada yang tahu betapa busuk kenyataan di balik senyumnya
Pastikan semua dapat yang mereka mau
Mobil mewah, uang jajan, liburan ke luar negeri
Semuanya
Hingga habis satu dunia untuk mentupi lubang yang sebenarnya bertambah besar, gelap, dan dalam.
Dan ketika ia pergi lagi besok pagi hari
Ia akan memulai lagi semuanya dengan ucapan bismillah
Apa malaikat akan memberikan toleransi dengan ucapan suci itu?
Karena solat seribu kali pun tak kan sanggup mengaburkan jati dirinya
Lalu ia berpura-pura lagi dengan menggunakan seluruh kepintarannya.
Ya, tentu saja dia pintar
Pintar bukan main
Ia ucapkan lagi segala kebaikan itu. Membuat tepuk tangan dan aliran pujian terus menerus menghujaninya
Jas hitamnya yang mahal menutupi peluh kebohongan di kemeja bermerk-nya
Hari ini ia akan berhadapan lagi dengan orang-orang bodoh
Mendapatkan keuntungan lagi dari mereka yang tampak dengan mudahnya menyumbang
Sumbangan panas itu masuk lagi kesakunya
Ia pun tersenyum lebar untuk ke seratus kali
Tatkala ia bayangkan senyum sumringah istri dan anak-anaknya di rumah
Ia akan pulang dengan saku penuh lagi
Yang bagi istri dan anaknya, sebuah berita baik
Selagi di hadapannya berkecamuk kemelaratan, kekerasan, kemerosotan moral
Ia tidak mendengar jeritan minta tolong
Yang ia dengar tawa dari perutnya yang buncit
Tanpa ia tahu seseorang di luar sana terseok-seok berjalan memulung sampah hanya untuk sesuap nasi
Dan ia sangat bangga akan dirinya
Seandainya malaikat di sampingnya mampu mengumpat. Mungkin telinganya sudah terbakar hangus
Namun malaikat pasti hanya menggeleng sambil terus mencatat setiap cuil pekerjaan yang menuntunnya terus hingga ke pintu gerbang
Ia tidak akan pernah tau
Sampai ia benar-benar berdiri di sana
Dan kemudian sadar berita baik itu adalah jembatan yang dibangunnya menuju neraka
Sayangnya, Tuhan masih saja begitu menyayanginya
Nyawanya tidak akan dicabut dalam waktu dekat ini
Jika ia bisa membiarkan mata hatinya melihat, banyak sekali kesempatan berserakan di hadapannya
Kesempatan untuk membelokan arah jembatan yang dibangunnya
Namun untuk berkali-kali kesempatan itu hanya ia jadikan alas untuk melindungi sepatu mahalnya dari becek kemiskinan
Lalu apakah ia cukup bahagia?
Hanya ia yang tahu jawabannya
Yang jelas ia masih saja si pembawa berita baik yang pintar dan bergelar
Tak tahu berapa banyak lagi kepura-puraan yang akan mengubah senyumnya tat kala Tuhan mengadili
Mungkin ia sudah lupa
Tuhan juga punya pengadilan
Dan saat itu tidak ada yang bisa membayar sang Hakim untuk membebaskannya
Namun tetap saja, sampai saat ini, taubat belum terdaftar dalam agenda kerjanya
Ia, si pembawa berita baik
Akan terus mempertahankan racun yang kini sudah hampir mencapai kerongkongannya
Racun yang akan mengeringkan isi lambung beserta organ-organ lainnya
Dan ketika ia bercermin
Akan terlihat bahwa tubuhnya tidak lebih dari tulang belulang rapuh yang penuh dosa
Namun ia tidak akan pernah bisa melihat itu
Ia hanya berharap Tuhan akan maklum dan mengasihaninya
Dan hari ini pun berakhir tanpa ada petunjuk baginya
Namun yang penting baginya adalah hari ini ia pulang dengan hati riang
Ia sampai di rumah…
Disambut dengan meja makan penuh dengan hidangan makan malam
Ia tersenyum lebar dan bersyukur akan hidup yang dipilihnya
Ia duduk di antara istri dan anaknya
Di hadapan semangkuk sup panas ia menunduk dan memulai makan malamnya dengan berdoa
Tuhan masih mau mendengarnya
Ia masih mau mengasihi makhluk abai itu
Namun si pembawa berita baik tidak menyadari betapa beruntung dirinya
Ia tidak tahu semakin lama ia berdiri di atas dustanya itu
Semakin cepat api menjalar sumbu yang akan menyulut kemarahan Tuhan
Di sisi lain begitu pula anak-anaknya
Yang tampak kuat dan muda padahal mereka lemah dan tidak bisa apa-apa
Mereka akan menangis senggukan ketika sampai padanya keadaan dimana harus mencari pekerjaan untuk bisa makan
Ia tidak akan pernah tau panasnya matahari
Dan tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kelaparan
Yang ia lihat hanya dunia dalam gemerlapnya lampu disko
Malam ini pun begitu
Mobil mewah dan dompet tebal adalah dewa bagi mereka yang akan menggiring mereka menuju nikmat dunia yang sesat
Dan mereka tertawa keras untuk itu
Tanpa tahu merekalah justru yang sedang ditertawai setan
Mereka, si pembawa berita baik dan anaknya tak lebih hebat dari dua orang badut sirkus
Mereka lucu dan sangat menghibur
Dan mereka menikmati kehidupan mereka
Padahal tidak akan lama
Mereka akan terkapar di atas perahu oleng di tengah lautan merah api
Saat itu mereka mungkin menangis, bertekuk lutut, dan membenturkan jidad mereka ke tanah
Mereka memohon ampun pada Tuhan
Tuhan yang dulu mereka lupakan
Begitupula istrinya yang masih menawan di umur yang hampir mencapai empat puluh
Ya, tentu saja dia terlihat solehah dan beriman
Namun ia hanya suka berlian dan ia tak peduli yang lain
Lalu apa kata yang lain tentang itu semua?
Tentu saja mereka tambah tidak peduli
Dan mereka bertiga terus saja tertawa terbahak-bahak
Lalu hari itu pun datang
Saat si pembawa berita baik tak lagi membawa berita kesukaan anak dan istrinya
Mereka pun tercekik oleh tawa mereka sendiri
Terdiam melihat bagaimana nasib mereka menjadi bulan-bulanan saudara mereka sendiri
Lalu mereka meringkuk di dalam kamar sempit dan gelap
Menggigil dan ketakutan
Baru sadar bahwa mereka bukan apa-apa
Namun saat mereka menatap tanah yang mereka pijak, mereka kembali congak
Mereka menatap ke atas
Mereka pasti selamat
Lagi
Dan itu
Benar
Di sisi lain, Tuhan telah menunggu mereka
Di neraka